Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat

Taman Nasional Sebangau Rusak Parah

: 2010-07-23 11:10:06

Taman Nasional Sebangau Rusak Parah Palangkaraya, Kompas- Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah hingga saat ini banyak yang rusak parah. Dari 66.000 hektar luas hutan rawa gambut yang rusak di Taman Nasional Sebangau, ternyata yang direhabilitasi hanya 850 hektar atau kurang dari 2 persen. Parahnya kerusakan tersebut terjadi akibat penebangan liar, kebakaran, dan hak pengusahaan hutan sebelum ditunjuk sebagai taman nasional pada 19 Oktober 2004. Berdasarkan pengamatan, Rabu-Kamis (21-22/7)sisa-sisa kerusakan,terutama kebakaran, masih tampak. Dalam perjalan dengan perahu cepat dari Dermaga Kereng Bengkirai hingga Stasiun Riset Mangkok, yang ditempuh selama satu jam, terlihat tonggak sisa-sisa kayu yang terbakadr di sela-sela tanaman rasau (sejenis pandan) di kiri kanan Sungai Sebangau. Sementara itu, kerusakan yang telah direhabilitasi berada di kawasan hulu Sebangau seluas kira-kira 250 hektar dan sekitar 560 hektar berada di dekat Stasiun Riset Mangkok. “Rehabilitasi dilakukan sejak 2005 hingga sekarang dengan jenis tanaman seperti jelutung (dyera costulata) belangeran (Shorea belangeran),” ujar Rosdy Abaza, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Sebangau, kepada pers dalam rangka kunjungan bersama World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Menurut Rosdy, Taman Nasional Sebangau tergolong sangat luas, wilayahnya mencapai 568.700 hektar. Kondisi ini menyebabkan banyak terdapat kendalauntuk merehabilitasi taman nasional yang berada di tiga kabupaten/kota itu, yakni Kota Palangkaraya (10 persen wilayah), Katingan (52 persen), dan Kabupaten Pulau Pisang (38 persen). Kendala itu di antaranya anggaran yang minim, sumber daya manusia yang terbatas, serta kurangnya prasarana pendukung. Terkait anggaran, untuk melakukan rehabilitasi seluas 1 hektar diperlukan biaya Rp 4 juta. Padahal, dana dari pemerintah hanya Rp 8 miliar per tahun. Itu pun untuk semua kebutuhan, termasuk gaji pegawai dan pembuatan dam di kanal untuk mempertahankan kondisi air (hidrologi) di lahan yang tersusun atas gambut tersebut. Idealnya, menurut Rosdy, dana yang diperlukan untuk biaya operasional dan rehabilitasi mencapai Rp 80 miliar. Untungnya sejauh ini sudah ada kerja sama dengan pihak lain, seperti PT Garuda Indonesia (250 hektar), WWF (15 hektar), Bank Indonesia (2 hektar), dan program Gerakan Rehabilitasi Lahan (400 hektar). Adventus Panda, Koordinator Konservasi WWF Indonesia-Kalteng, mengatakan, jumlah sumber daya yang terbatas juga menjadi kendala. “Tenaga kerja yang ada hanya 47 orang termasuk polisi hutan, “ ujarnya. Taman Nasional Sebangau memiliki keragaman hayati yang cukup besar. Ada 166 jenis flora, 150 jenis burung, 35 jenis mamalia, 36 jenis ikan, dan sekitar 6.200 orangutan. (WER) Kompas, 23 Juli 2010