Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat

Naik, Daya Serap Bahan Baku Hutan Tanaman

: 2010-07-26
Jakarta, Kompas- Minat industri pengolahan kayu menyerap bahan baku dari hutan tanaman terus meningkat. Pemerintah merespons hal ini dnegan terus mendorong pembangunan hutan tanaman rakyat untuk lebih menggerakan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan. Demikian disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta, Minggu (25/7). Industri pengolahan kayu berkapasitas lebih dari 6.000 meter kubik per tahun mencapai 215 unit dnegan nilai investasi Rp 22,8 triliun. Industri tersebut menyerap tenaga kerja langsung 248.955 orang dan membutuhkan bahan baku industri 44,6 juta meter kubik tahun ini yang sampai bulan juli 2010 telah terealisasi 22,5 juta meter kubik. Bahan baku kayu bersumber, antara lain, dari hutan tanaman industri (HTI), yakni 18,4 juta meter kubik (39,3 persen), izin pemanfaatan kayu (IPK) 13,6 juta meter kubik (27 persen), hak pengusahaan hutan (HPH/hutan alam) sebanyak 5,9 juta meter kubik (12 persen), dan hutan rakyat 4,7 juta meter kubik. Hal ini menunjukkan pasar kayu tanaman domestik, terutama di Pulau Jawa, kian membaik. Adapun rencana bahan baku industri pengolahan berkapasitas produksi kurang dari 6.000 meter kubik per tahun dnegan izin usaha dari bupati 1,3 juta meter kubik. Sampai kini hal itu baru terealisasi 66.285 meter kubik. Secara terpisah, Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto mengatakan sudah terjadi peralihan bahan baku dari hutan alam ke HTI dan hutan rakyat. Untuk itu, Kemhut dalam program jangka panjang akan terus mengarahakan pembangunan industri kehutanan berbasis hutan tanaman. "Polanya bisa dengan outsourcing (pemasok bahan baku) yang akan menggerakkan rakyat menanam pohon dengan asas legalitas cukup faktur atau SKAU (surat keterangan asal usul dari kepala desa). Kalau ada kasus penyalahgunaan SKAU (sebaiknya) ditangani kasusnya, tidak perlu mengubah prinsip dan substansi kebijakan," ujar Hadi. Pasar yang telah tumbuh berkat perkembangan industri kayu lapis dan mebel berbasis kayu rakyat membuat hutan rakyat dan HTR berkembang pesat di Pulau Jawa. Masyarakat kini giat menanami pohon sengon atau jato di areal persawahan berkat harga kayu yang terus naik. Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia elfian Effendi meminta Kemenhut mengalihkan perkembangan industri pengolahan kayu ke Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pertumbuhan industri yang tidak bersumber dari satu atau dua kelompok usaha dapat menciptakan persaingan usaha yang sehat sehingga produsen kayu rakyat mendapat harga yang kompetitif. (HAM) Kompas, 26 Juli 2010 hal 18